Artikel

home / Artikel
image-museum

Umban Tali

16-Jan-2019

Umban atau pengumban adalah senjata sederhana yang biasanya digunakan untuk melontarkan proyektil, misalnya batu, tanpa gaya pegas. Dari kata umban, munculah kata 'mengumbankan' yang berarti melontarkan batu (dan proyektil lainnya) dengan umban. Umban Tali salah satu koleksi Museum Adityawarman yang di pamerkan di pameran tetap lantai dasar, koleksi dengan nomor inventaris 05.01 dikelompokkan dengan koleksi senjata tradisional lainnya di dalam satu vitrin atau lemari pajangan. Dapat juga dilihat dengan unduh aplikasi mobile phone google play atau apple store atau link http://www.museumadityawarman.org/koleksi/1346 atau scan QR barcode. Secara historis, senjata itu digunakan untuk berburu dan bertempur, dan telah ada sejak Zaman Neolitik. Umban telah diketahui oleh masyarakat zaman Neolitik di sekitar Mediterania. Kemungkinan besar umban telah ditemukan selama Zaman Paleolitik Hulu saat teknologi baru pada zaman itu muncul, seperti atlatl dan busur panah. Dengan pengecualian terhadap Australia yang didominasi penggunaan lembing seperti woomera, umban adalah senjata yang terkenal di seluruh dunia, meskipun tidak jelas kapan pertama kali muncul karena pembauran budaya dan peradaban mandiri. Pada masa sekarang, umban digunakan oleh peminat olahraga sebagai alat sintasan dan senjata improvisasi. Di beberapa belahan dunia, umban juga digunakan saat terjadi kerusuhan. Di eropa disebut Trebuset, Trebuset (dari bahasa Perancis Kuno: trebuchets) adalah suatu alat atau senjata pelontar berpengimbang berat yang banyak digunakan dalam pertempuran pada Abad Pertengahan untuk menghancurkan dinding atau bangunan yang difortifikasi. Trebuset bekerja berdasarkan pada konsep keseimbangan benda dan mekanisme umban tongkat. Diduga trebuset pertama kali digunakan di Eropa oleh Bizantium. Trebuset dipercayai pertama kali dibuat di Cina antara abad ke-5 dan abad ke-3 SM. Senjata ini diperkenalkan di Eropa sekitar tahun 500 M. Trebuset mampu melontarkan batu seberat 150 kg dengan cepat ke arah musuh, sehingga senjata ini dapat merusak tembok dan dinding pertahanan. Trebuset merupakan jenis katapel tempur yang bekerja melalui tenaga yang ditimbulkan oleh pengimbang untuk melontarkan proyektil. Prinsip kerjanya berasal dari senjata umban tongkat. Bagian utama trebuset antara lain: tali umban, lengan pengumban, dan beban pengimbang. Mekanismenya seperti jungkat-jungkit, dengan tali umban dan beban pengimbang ditempatkan di ujung lengan pengumban secara berlawanan. Pada awalnya, tali umban yang memiliki kantung proyektil diisi dengan amunisi/proyektil. Tali ini ditarik ke bawah dan ujungnya ditempatkan di bagian bawah gandar/poros yang menyokong lengan pengumban, lalu tali pengumban ditahan oleh sebuah pemicu sementara beban pengimbang terangkat ke atas. Setelah melepaskan pemicu, beban pengimbang akan turun ke bawah sehingga tali dan lengan pengumban akan terangkat dan berputar secara vertikal, mengakibatkan kantung proyektil melepaskan amunisi dan melontarkannya ke arah target. Umban memiliki semacam 'kantung' atau tempat meletakkan proyektil di antara kedua ujungnya. Benda yang dilontarkan diletakkan di sana. Sebelum melontarkan, kedua ujung umban dipegang dengan satu tangan lalu diayunkan dan dihentakkan sehingga kantung tertarik. Hal itu membuat proyektil lepas dan melesat menurut garis singgung lingkaran yang terjadi karena perputaran kantung tersebut. Umban sangat murah dan mudah dibuat. Proyektil yang paling sederhana adalah batu, terutama yang bulat. Amunisi yang cocok biasanya dari daerah pinggiran sungai. Ukuran proyektil dapat bervariasi, mulai batu kerikil/koral yang beratnya kurang dari 50 g, hingga batu bentuk peluru yang beratnya 500 g atau lebih. Kadang senjata ini digunakan untuk melontarkan mayat dan bangkai binatang yang terjangkit penyakit, termasuk Mati Hitam, agar membuat musuh tertular. Umban tali dapat juga ditemui di beberapa kabupaten di provinsi Jambi. Seperti di Kabupaten Kerinci, Sarko, dan Bungo Tebo. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak laki-laki pada rentang usia 10 - 17 tahun. Arena bermainnya berupa lapangan yang agak luas. Sekurang-kurangnya pemain terdiri dari dua orang. Alat permainan umban tali terbuat dari kulit kayu atau benang. Bahan tersebut kemudian dijalin sedemikian rupa sehingga bagian tengah berbentuk daun. Pada bagian ujung terdapat bulu-bulu yang tidak dianyam. Pada salah satu ujung lainnya berbentuk seperti cincin yang berfungsi sebagai alat pemegang dengan jalan memasukkan telunjuk ke dalam lobang tersebut. Teknis bermainnya adalah dengan jalan memegang pangkal tali dan memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang cincin. Lubang cincin ini disebut dengan kelaci.Selanjutnya memegang ujung tali lainnya yang disebut ciltak. Dengan demikian kondisi umban tali berlipat dua. Pada bagian daun diletakkan batu kecil yang berfungsi sebagai peluru. Umban tali diletakkan ke belakang kemudian diayunkan ke depan dengan sekuat-kuatnnya sambil melepaskan ciltak. Hal ini akan menyebabkan batu terlempar ke luar mengarah kepada sasaran yang diinginkan atau dituju. Penentuan pemenang dilihat dari siapa yang lebih banyak mengenai sasaran yang telah disepakati. Disamping sebagai permainan, umban tali juga dipergunakan sebagai alat untuk berburu dan menghalau burung yang akan memakan padi di sawah pada saat musim panen. Permainan umban tali juga dikenal dengan nama ketapel. (iv)