Artikel

home / Artikel
image-museum

Mungkinkah Kita Membangun Museum Di Ruang Angkasa ?

15-Jan-2019

Membaca artikel The ambitious proposal to create space museum in orbit, di BBC
Future, seperti melihat tugas kurator museum di luar angkasa. Menceritakan seorang teknisi
antariksa senior ingin NASA (National Aeronautics and Space Administration) lembaga
antariksa amerika serikat mengawetkan pesawat antariksa bersejarah di orbit dan meneliti
kotoran astronot di Bulan.
Pada 18 Mei 2009, 570 km di atas planet Bumi, astronot John Grunsfeld menjadi
manusia terakhir yang menyentuh Teleskop Antariksa Hubble. Sebelum memasuki pintu
kedap udara Pesawat Ulang-Alik Atlantis pada penghujung misi perbaikan terakhir yang
melelahkan. Para kru melepas teleskop Hubble ke orbit dan, seiring Atlantis menjauh,
silinder yang berkilauan itu perlahan menghilang ke ruang hampa.
? Vanguard 1: Satelit penelitian tertua yang masih mengorbit Bumi
? Pesawat ruang angkasa Cassini: penjelajahan terakhir untuk mengungkap Saturnus
? Teleskop Antariksa Hubble pantau galaksi terjauh dari Bumi
Kini, karena program pesawat Ulang Alik telah dihentikan, tidak ada cara untuk melakukan
misi perbaikan Hubble lagi. Jika situasi mendukung, teleskop ruang angkasa itu akan tetap
beroperasi selama beberapa tahun lagi, terus mengungkap keagungan Alam Semesta. Tapi
pada dekade berikutnya, komponen satelit pada akhirnya akan rusak seiring waktu dan
orbitnya meluruh.
Sebagai salah satu pencapaian saintifik paling penting sepanjang sejarah, Hubble
ditakdirkan untuk terbakar seiring memasuki atmosfer Bumi pada awal 2030-an. Nasibnya
akan sama seperti banyak obyek antariksa bersejarah lainnya - mulai dari satelit pertama dan
Laika si anjing antariksa, sampai Skylab dan stasiun ruang angkasa MIR. Stuart Eves Kepala
Badan Pertukaran Informasi Antariksa (Space Information Exchange) menyebutkan "Alih-
alih, dengan cara yang sama kita mempertahankan kapal-kapal, pesawat terbang, mobil, dan
kereta api bersejarah di museum," ujarnya, "kita perlu terus merawat Hubble dan menjaganya
untuk anak-cucu."
Daripada membawanya kembali ke Bumi - misi yang mahal dan menantang (meski
begitu berhasil dicoba oleh Pesawat Ulang Alik pada 1984 dengan bantuan dua satelit

komunikasi) - Eves meminta pemerintah AS untuk mempertahankan teleskop Hubble di
ruang angkasa. Sebelum misi perbaikan terakhir Hubble, Nasa menyelidiki kemungkinan
menggunakan robot untuk mendatangi dan memperbaiki satelit tersebut alih-alih astronot.
Eves ingin teknologi yang sama disesuaikan untuk mempertahankan teleskop di orbit.
"Sebuah satelit dapat menangkap teleskop itu, menggesernya ke arah yang tepat dan
mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi, sehingga bertahan di sana untuk sementara,"
ujarnya. "Kemudian masalah Anda - sebagaimana semua kurator museum - adalah menjaga
aset berharga ini dari terkikis seiring waktu, misalnya oleh radiasi dan sampah antariksa."
Solusi yang diusulkan Eves ialah meluncurkan sebuah satelit kecil - seperti satelit
cubesat yang berukuran sebesar kotak sepatu - ke orbit yang sama dengan Hubble, untuk
bertindak sebagai penjaga atau kurator virtual. Ketrampilan teknis kurator bervariasi
berdasarkan jenis bahan yang dikumpulkan sebuah museum. Misalnya, kurator sebuah
museum seni perlu mengetahui bagaimana mengotentikasi lukisan, sementara kurator
museum sejarah alam perlu mengetahui bagaimana menentukan umur fosil.
Stuart Eves Kepala Badan Pertukaran Informasi Antariksa (Space Information
Exchange) menyebutkan "Anda menerbangkan kamera robot kecil di sekeliling obyek dan
membuat videonya bisa dilihat pengunjung museum dengan, misalnya, headset VR," ujarnya.
"Setidaknya kita punya rekaman dokumenter tentang Hubble." Teknologi cubesat yang sama
juga bisa digunakan untuk memantau artefak antariksa ikonik seperti Telstar, satelit
komunikasi TV pertama - diluncurkan pada 1962 dan masih berada di orbit elips antara 1000
dan 5.600km di atas planet - atau Vanguard-1, objek antariksa tertua yang berada di orbit.
Bukan hanya satelit di orbit Bumi yang ingin diawetkan Eves. Dengan NASA
kembali merencanakan misi ke Bulan, semakin muncul kekhawatiran bahwa obyek yang
ditinggalkan oleh misi robot dan manusia dapat terganggu atau rusak oleh pendatang baru.
Organisasi internasional For All Moonkind baru-baru ini didirikan untuk meningkatkan
kesadaran akan isu ini. Mereka mengusulkan, misalnya, peraturan baru PBB untuk
melindungi pesawat pendaratan, bendera, dan jejak kaki astronot Apollo.
Meskipun pada suatu hari nanti bisa saja ada museum di bulan, atau setidaknya semacam
tempat perlindungan bagi artefak penting, material yang ditinggalkan mungkin layak untuk
dibawa kembali ke bumi. "Saya mendukung ide bahwa perlu ada upaya kurasi dan preservasi
objek dan jejak fosil, seperti jejak langkah kaki," kata Eves.
"Tapi saya pikir upaya itu tidak perlu terlalu ketat sampai Anda tidak bisa mendapatkan
manfaat saintifik darinya."

"Salah satu usul lebih aneh yang pernah saya dengar ialah kembali [ke ruang angkasa] dan
membawa kantung kotoran yang ditinggalkan astronot," ujarnya.
"Para ilmuwan biologi antariksa akan sangat ingin tahu bagaimana bakteri dalam feses
mengatasi lingkungan ruang angkasa yang ekstrem."
Ini jelas akan menjadi obyek museum yang tidak biasa. Akankah awak Pesawat Ulang Alik
Atlantis pada 2009 menjadi orang-orang terakhir yang melihat Hubble dari jarak dekat?
Ini tidak akan jadi yang pertama kalinya artefak di Bulan dikembalikan ke Bumi.
Pada November 1969, awak Apollo 12 membawa kembali kamera dari prob robot Surveyor-3
untuk penelitian. Temuan awal bahkan mengindikasikan bahwa kamera tersebut membawa
koloni bakteri, yang bertahan hidup di Bulan.
Tapi belakangan diketahui bahwa ternyata bakteri tersebut kemungkinan berasal dari manusia
yang membawa kamera karena prosedur kebersihan yang buruk selama penelitian.
Dalam satu dekade ke depan, ada peluang cukup besar bagi manusia untuk kembali
menjejakkan kaki di permukaan Bulan dan melihat jejak langkah pertama Neil Armstrong
dengan mata mereka sendiri. Tapi apakah awak Pesawat Ulang Alik Atlantis 2009 orang-
orang terakhir yang melihat Hubble dari jarak dekat? Tidak harus demikian.

Hak atas foto GETTY IMAGES Image caption Jejak tapak kaki para astronot Apollo mungkin termasuk artefak
yang ingin kita lindungi.
Generasi masa depan mungkin bisa mengitari planet Bumi dalam pesawat antariksa pribadi
untuk melihat-lihat satelit. Namun, dalam jangka pendek, beberapa orang yang berduit
mungkin bisa kembali melihat beberapa obyek antariksa bersejarah dari jarak dekat.

"Beberapa perusahaan mempertimbangkan dengan serius untuk membangun hotel antariksa,
orbit apa yang akan mereka pilih?" tanya Eves.
Orbit yang sejajar dengan Hubble bisa menyajikan pemandangan luar biasa di luar jendela -
ketika Anda melihat ke bawah, ke arah Bumi, akan bagus juga jika Anda bisa melihat
Teleskop Antariksa Hubble melayang-layang." (ed.Iv)