museum

MUSEUM BUDAYA DUNIA

Oleh : Vandrowis

Sejarah mencatat bahwa organisasi museum ditemukan pertama kali di Alexandria, Mesir, sekitar 3000 tahun sebelum masehi oleh Prolemy Soter. Museum tersebut hancur ketika terjadi kerusuhan 600 tahun kemudian. Museum pada waktu itu merupakan tempat komunitas pemikir atau universitas dan filsafat yang merupakan induk dari pengetahuan. Museum fokus pada pendidikan, khususnya koleksi-koleksi yang memiliki keunikan dan nilai-nilai berharga secara materi.

Istilah museum berakar pada kata “Mouseion” yang dalam bahasa Yunani berarti "Kursi Muses." Mouseion merupakan lembaga filosofis atau tempat kontemplasi. Kata Mouseion kemudian diturunkan dalam bahasa Latin menjadi museum. Museum, pada zaman Romawi, dibatasi penggunaannya untuk menyebut tempat diskusi filosofis. Di sini, museum lebih cenderung sebagai prototipe universitas ketimbang sebuah lembaga untuk melestarikan dan menginterpretasikan aspek materi dari warisan.

Versi berbeda istilah museum berasal dari kata  Yunani, Μουσεον atau mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak Dewa Zeus yang melambangkan ilmu dan kesenian.

Kata museum dihidupkan kembali di Eropa pada abad ke-15 untuk menggambarkan koleksi Lorenzo de’ Medici di Florence. Tetapi, istilah museum pada waktu itu dimaksudkan menyampaikan konsep kelengkapan daripada menunjukkan sebuah bangunan. Dua abad berikutnya, Eropa menggunakan istilah museum untuk menggambarkan koleksi keingintahuan. Pada abad ke-18, setelah pendirian British Museum, pengertian museum mulai mengarah pada lembaga yang didirikan untuk melestarikan dan menampilkan koleksi bagi umum. Selanjutnya, penggunaan kata museum selama abad ke-19 dan abad ke-20 melambangkan bangunan rumah materi budaya yang bisa diakses oleh publik.

Asal-usul konsep pelestarian dan interpretasi, yang menjadi dasar museum, terletak pada kecenderungan manusia untuk memperoleh dan mencari informasi. Sebuah pengembangan terhadap gagasan museum terjadi pada awal milenium ke 2 SM di Larsa, Mesopotamia, yang dilakukan dengan cara menyalin prasasti tua untuk digunakan di sekolah-sekolah. Tapi, gagasan itu juga melibatkan penafsiran terhadap material aslinya. Kriteria ini tampaknya telah terdapat pada benda-benda yang ditemukan oleh Sir Leonard Woolley di Ur. Temuan Woolley mengindikasikan bahwa raja Babilonia Nebukadnezar dan Nabonidus telah mengumpulkan barang antik selama masa kekuasaan mereka. Selain itu, di kamar sebelah kuil sekolah tidak hanya ditemukan koleksi barang antik, tetapi juga sebuah tablet prasasti abad ke-21 SM. Woolley menafsirkan tablet itu sebagai label museum. Penemuan ini tampaknya menunjukkan bahwa Ennigaldi-Nanna, putri Nabonidus, dan pendeta yang mengelola sekolah, memiliki sebuah museum pendidikan kecil di sana.

Perkembangan museum periode berikutnya seiring dengan adanya gerakan  Renaissance di Eropa Barat mengalami perubahan, koleksi museum pada masa itu dimulai pada abad 14 dan berlanjut sampai abad 16, seiring dengan kejayaan seni dan ilmu pengetahuan. Seiring itu pula dengan perubahan cara berpikir manusia ke arah pengembangan intuisi pengetahuan dan pengalaman individu dalam proses mencari informasi. Fokus beralih dari hubungan sosial ke hubungan kemanusiaan yang menjadi pusat. Dalam banyak hal keadaan waktu itu berkaitan dengan saat ini. Perubahan saat ini dari yang berpusat pada kemanusiaan ke arah global. Perubahan ini terlihat pada abad 15, Florence Italia menjadi pusat pertumbuhan intelektual yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan seni terbaik pada saat itu. Kota tersebut menjadi kota pertama menggunakan kata museum untuk menggambarkan keindahan atas koleksi kedokteran. Museum muncul perannya sebagai pusat pencerahan untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan khususnya berbagai metodologi yang berkaitan dengan kemanusiaan dan alam.

200 tahun setelah adanya Medici Gallery dan museum untuk publik ada beberapa perkembangan lainnya seperti The Ashmolean di Oxford, Inggris, menjadi salah satu museum pertama yang tercatat untuk umum, museum ini dibuka tahun 1683. The British Museum dibuka tahun 1753, The Louvre di Prancis terbuka untuk umum setelah Revolusi Perancis tahun 1789.

Museum terus mengalami perubahan konsep, yaitu dengan munculnya konsep yang awalnya koleksi privat atau pribadi menjadi dapat diakses oleh umum. Perkembangan ini berevolusi di seluruh museum di Eropa. Di Amerika Serikat, koleksi tumbuh dan tersedia bagi masyarakat umum cenderung berkembang dari tangan ke tangan. Museum yang mempromosikan konsep sebagai bagian dari fasilitas publik dan mengembangkan pendidikan dilakukan oleh Museum yang diprakarsai oleh Charleston Library Society of South Carolina pada awal tahun 1773.

Museum pertama yang memamerkan karya seni di Amerika serikat dibangun di Pennsylvania Academy of Fine Arts tahun 1807. Institusi ini dibangun untuk melayani sekolah seni dan pameran. Museum Nasional mulai dibangun atas prakarsa Charles Willson Peale’s Museological dan Entrepreneurial di Philadelphia tahun 1785 dan selesai tahun 1846. Terbitnya Undang-Undang oleh Senat Amerika Serikat maka perkembangan museum menjadi milik publik. Setelah itu mulailah dipikirkan pendidikan profesional bagi pengelola museum yang diprakarsai oleh Smithsonian Institution. Melalui Joseph Henry yang merupakan sekretaris institusi tersebut membangun penelitian dan publikasi melalui pendidikan yang tersebar di berbagai tempat. Di Museum, pendidikan dapat secara langsung melakukan penelitian dan bertukar pikiran melalui referensi yang ada pada obyek yang terlihat.

Di Cina, aktifitas mengumpulkan koleksi dimulai setidaknya pada awal Dinasti Shan (abad XVI SM -XI SM). Aktifitas tersebut kemudian dikembangkan oleh Dinasti Qin (abad III SM) sebagaimana terlihat pada makam Kaisar Shih Huangti, dekat Sian (Xian) yang dijaga oleh prajurit-dan kuda terra cotta. Bersama benda-benda pemakaman lainnya, benda-benda tersebut disimpan di Museum Figure Qin. Istana Shih Huangti tercatat memiliki benda-benda langka dan berharga. Kaisar Cina berikutnya terus mempromosikan seni, baik lukisan, kaligrafi, logam, batu giok, kaca, dan tembikar. Salah satunya Kaisar Han Wu-ti (141/140-87/86 SM) yang mendirikan sebuah akademi yang berisi lukisan dan kaligrafi dari masing-masing provinsi di China. Begitu pula dengan kaisar terakhir Dinasti Han, Hsien-ti (turun tahta 220 AD), yang mendirikan sebuah galeri yang berisi potret para menterinya. Sementara di Jepang, Kuil Todai menjadi rumah bagi sebuah patung perunggu Sang Buddha Agung (Daibutsu) yang dibangun pada abad ke-8 di Nara. Harta karun kuil candi ini masih dapat dilihat di Shoso.

Pada waktu yang sama, masyarakat Islam sedang membuat koleksi peninggalan di makam-makam para syuhada Muslim. Gagasan wakaf, yang diresmikan oleh Rasulullah sendiri, secara tidak langsung juga mengakibatkan pembentukan koleksi. Di Afrika tropis koleksi benda-benda juga memiliki sejarah panjang, seperti yang terdapat di kuil dan dalam upacara keagamaan tertentu.

Bagaimana dengan perkembangan museum di Indonesia, Perkembangan museum di Belanda sangat mempengaruhi perkembangan museum di Indonesia. Diawali oleh G.E. Rumphius yang pada abad ke 17 telah menulis tentang Ambonsche Landbeschrijving yang antara lain memberikan gambaran tentang sejarah kesultanan Maluku, di samping penulisan tentang keberadaaan kepulauan dan kependudukan. Memasuki abad ke 18 pada tanggal 24 april 1778 berdiri Bataviaach Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga berstatus setengah resmi, dipimpin oleh Dewan Direksi yang menjelaskan bahwa salah satu tugasnya adalah memelihara museum yang meliputi : pembukuan (boekreij); himpunan etnografis; himpunan kepurbakalaan; himpunan prehistori; himpunan keramik; himpunan muszikologis; himpunan numismatik; serta naskah-naskah (handschriften), termasuk perpustakaan yang semua tercantum pada pasal 3 dan 19 Statuten pendidikan. Pasal 20 Statuten  mulai menyatakan bahwa benda yang telah menjadi himpunan museum atau Genootschap tidak boleh dipinjamkan dengan cara apapun kepada pihak ketiga dan anggota-anggota atau bukan anggota untuk dipakai atau disimpan, kecuali mengenai pembukuan dan himpunan naskah-naskah (handschiften).

Perkembangan ilmu pengetahuan alam mendorong berdirinya lembaga-lembaga lain. Di batavia kebudayaan berkembang dan koleksi meningkat jumlahnya sehingga gedung lama di Jl. Majapahit pindah ek gedung baru di Jl. Merdeka Barat pada tahun 1862. Karena sangat berjasa pada ilmu pengetahuan maka diberi gelar “Koninklijk Bataviaashe Genootschap Van Kunsten en Watenschappen”. Sampai saat ini Gedug tersebut masih ada di Jakarta dan menjadi Museum Nasional Indonesia.

Pemerintah Hindia Belanda sangat menaruh perhatian terhadap pendirian museum seperti Lembaga Kebun Raya Bogor. Kemudian Von Koenigswald mendirikan Museum Zoologi di Bogor pada 1894, Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan yang bernama Radyapustaka (sekarang Museum Radyapustaka) didirikan di Solo pada 28 Oktober 1890, Museum Geologi didirikan di Bandung pada 16 Mei 1929, Yava Instituut didirikan di Yogyakarta pada 1919 dan dalam perkembangannya  pada 1935 menjadi Museum Sonobudoyo. Perkembangan Museum semakin menjamur di Indonesia  pada tahun 1970an dengan program Pemerntahan Orde Baru yang mendirikan museum setiap Provinsi di Indonesia.

Semoga berkembangan Museum dapat terus tumbuh dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan masyarakat di Indonesia dan yang utama tetap selalu melestarikan budaya dan menarik perhatian masyarakat.

Berita Lainnya

© Museum Adityawarman 2014- 2018. All rights reserved.