museum

Kreasi Strategi Pemasaran Museum Non Profit

Oleh : Vandrowis*

Munculnya ide pemasaran museum adalah relatif  baru, yaitu sekitar tahun 1960an. Ketika itu jumlah pengunjung di museum-museum Eropa dan Amerika Serikat sangat merosot tajam.

Manajemen museum juga dianggap kurang profesional dalam mengembangkan potensi museum. Dalam keadaan krisis semacam itu muncullah konsep tentang marketing museum (pemasaran museum). Metropolitan Museum of Art di New York baru menggunakan konsep marketing museum sekitar tahun 1969 (Suwati Kartiwa, 2005).

Menurut International Council of Museums tahun 1974, definisi museum ialah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan koleksi, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, yang terdiri dari barang-barang pembuktian manusia dan lingkungan.

 Perlu ditekankan di sini yang sering menjadi polemik bahwa yang dimaksud dengan museum menurut definisi ini ialah lembaga yang tidak mencari keuntungan berupa uang (non profit organization).

Mengapa ditentukan sebagai organisasi non profit? Bagaimana museum mau berkembang kalau tidak profit. Karena apabila sebuah museum mencari keuntungan berupa uang, maka museum itu akan berubah sifat sehingga menomor-duakan pendidikan, pembelajaran, perawatan koleksi, dan lainnya. Hal ini tentu saja berbeda dengan tujuan utama museum.

Terjawab bahwa museum organisasi non profit karena harus mengutamakan pendidikan, pembelajaran, perawatan koleksi, dan lainnya. Sekarang yang harus kita kreasikan bagaimana strateginya memasarkan kegiatan pendidikan, pembelajaran, dan perawatan di museum menjadi berkelanjutan dan simultan, tidak komersil dan tidak membebani pemerintah.

Profitabilitas merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan keputusan perusahaan. Rasio profitabilitas mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Menurut Gitman (2003:591), “ Profitability is the relationship between revenues and cost generated by using the firm’s asset- both current and fixed- in productive activities”.

Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan atau institusi harus berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Para kreditur, pemilik perusahaan, dan terutama sekali dari pihak manajemen perusahaan akan berusaha meningkatkan keuntungan karena disadari benar betapa pentingnya arti dari profit terhadap kelangsungan dan masa depan perusahaan.

Van Horne dan Wachowicz (2005:222) mengemukakan rasio profitabilitas terdiri atas dua jenis, yaitu rasio yang menunjukkan profitabilitas  dalam  kaitannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi. Profitabilitas dalam hubunganya dengan penjualan terdiri atas margin laba kotor (gross profit margin) dan margin laba bersih (net profit margin). Profitabilitas dalam hubungannya dengan investasi terdiri atas tingkat pengembalian atas aktiva (return on total assets) dan tingkat  pengembalian atas ekuitas (return on equity).

Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting oleh manajemen museum karena sudah saatnya pengelola mengatur efektivitas, efisiensi, dan ekonomian mengelola museum.

Dengan membuat kreasi kegiatan yang tepat untuk layanan kunjungan harus ada ukurannya, tidak hanya sekedar ada tapi apakah kegiatan layanan yang dibuat untuk siswa dapat menarik siswa yang lainnya untuk datang kembali ke museum dengan keluarga. Memberikan layanan tentunya akan berhubungan dengan seberapa menarik koleksi yang di pamerkan, karena tidak selalu museum modern dengan kecanggihan yang melekat di koleksi selalu menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Pieter Ter Keurs, seorang kurator  Rijksmuseum di Leiden, Negeri Belanda,  menyatakan kurang setuju dengan istilah modern bila istilah itu dihubungkan dengan kecanggihan alat-alat elektronik yang dipergunakan dalam sebuah museum. Alat elektronik itu sering dan cepat berubah karena kemajuan jaman dan kecanggihan industri.

Sebuah museum yang disebut modern sekarang, mungkin tahun depan sudah tidak modern lagi karena banyak alat-alat elektronik baru yang muncul. Menurut Pieter Ter Keurs museum yang disebut modern  ialah bila bagian Program Publik dari museum tersebut berusaha dengan terus menerus untuk memasarkan museum dan menggaet sebanyak mungkin orang untuk datang dan melihat museum tersebut.

Kesimpulannya buat kreasi berbagai kegiatan kreatif sebagai strategi pemasaran museum dan ciptakan pengunjung. Jangan biarkan museum sepi dari pengunjung. (ivn)

*Penulis Members ICOM

Berita Lainnya

© Museum Adityawarman 2014- 2018. All rights reserved.